Bertepatan dengan hari Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, 7 Oktober 2009 ini, Komunitas Novisiat Montfortan, Ruteng, bersama dengan para konfrater di Paroki St. Montfort dan para Suster Putri-putri Kebijaksanaan (DW) di Poco mengadakan ziarah bersama ke Gua Maria di Torong Besi, Reo. Kegiatan ziarah bersama ini diisi dengan dua kegiatan, yakni pertama, rekoleksi dan perayaan Ekaristi di Gua Bunda Maria di Torongbesi, dan kedua, rekreasi bersama di pantai Katebe.
Perjalanan menuju ke Torong Besi, Reo, membutuhkan waktu lebih dari 3 jam. Menggunakan sebuah bis kayu (truck beratap) dan sebuah mobil Kijang, rombongan mulai bergerak dari Ruteng pada pukul 07.15. Dalam perjalanan ke sana, rombongan Novisiat Montfortan menjemput para konfrater dan para suster di Poco. Pater Sumadi dan Fr. Obet serta para suster DW bersama dengan dua postulan dan seorang tamu bergabung. Semua peserta ziarah pun dengan riang gembira bergerak menuju ke Torong Besi.
Kendati ada beberap penumpang yang mabuk, perjalanan umumnya ditempuh dengan aman dan lancar hingga akhirnya sekitar jam 10.45 rombongan tiba di kompleks tempat ziarah.
Ziarah: Proses Pertobatan
Setelah beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah dan kepenatan, semua peserta ziarah, yang semuanya dapat disebut sebagai anggota Keluarga Besar Montfortan itu bersama-sama menuju ke gua Bunda Maria. Sambil memandang keindahan hamparan laut lepas, para peserta mendengarkan sebuah input dalam rekoleksi singkat yang disampaikan oleh Pater Arnold Suhardi SMM dengan tema “Makna Ziarah”.
Dalam pemaparannya, Pater Arnold menguraikan lima pokok penting yang berkaitan dengan ziarah. Pada bagian pertama, sebagai “pengantar”, Pater Arnold mengatakan bahwa kita melakukan ziarah berangkat dari kesadaran dan cinta. Dengan berziarah orang mempunyai niat, yang muncul dari halam hati yang penuh cinta dan harapan. Ziarah sebagai tindakan pribadi atau devosi pribadi berbeda dari liturgi. Karena itu, katanya, di dalam liturgi kerap tiada kesadaran atau greget. “Maka, kesempatan ziarah adalah saat yang sangat bermakna,” tegas P. Arnold.
Yesus: Allah yang Berziarah
Lebih lanjut, Pater Arnod menjelaskan bahwa “Bukan kita yang pertama berziarah kepada Allah. Sebaliknya, justru Allah yang pertama-tama berziarah kepada kita. Di dalam Perjanjian Lama kita menemukan Allah yang berziarah, berjalan bersama, seperti pengalaman Abraham, terutama dalam pengalaman Musa yang mengantar umat Israel keluar dari Mesir.” Gambaran yang paling sempuran mengenai Allah yang berziarah adalah Yesus. Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. “Yesus berziarah karena Dia mencintai!” demikian tegas lulusan Teologi Spiritual Gregoriana, Roma, ini.
Jadi, dia menyimpulkan, Yesus mempunyai dua ziarah, yakni pertama, “dalam Tritunggal”: Yesus keluar dari diriNya untuk mencintai Bapa dan Roh Kudus. Kedua, “dalam waktu atau dalam sejarah keselamatan,” yang mempunyai dua makna: Exitus, yang berarti bahwa Dia keluar dari keabadian dan masuk ke dalam waktu untuk menjadi Manusia. Puncak ziarah ini adalah peristiwa Salib. Reditus yang berarti Yesus kembali kepada Bapa setelah peristiwa Salib.
Oleh karena itu, ziarah itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi manusia. Dasarnya adalah bahwa Yesus Kristus sebagai Homo viatus — Manusia yang terus berziarah dalam Roh — menemani manusia. Maka, dalam Roh, manusia terus beziarah di mana dan kapanpun, ujarnya sambil menyitir salah satu tulisan St. Montfort, Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi (CKA) Bab VI, dan salah satu bagian dalam Ratio Formationis Montfortan.
Gereja yang Berziarah
Ketika menjelaskan bagian Gereja sebagai umat Allah yang berziarah, P. Arnold menggarisbawahi bahwa titik awal atau titik berangkat penziarahan Gereja adalah pengalaman Paskah. “Jadi, kita seperti St. Paulus yang ditangkap oleh Kristus,” ujarnya. Di dalam Sakramen Baptis, kita memulai penziarahan kita. Pengalaman perjalanan dari Ruteng menuju ke tempat ziarah, Gua Maria Torongbesi adalah sebuah simbolisme penziarahan batin, pergerakan batin. Kita berziarah, bergerak dari hal dangkal menuju ke tempat yang yang lebih dalam. Ziarah adalah sebuah gerakan menuju pertobatan, sebagaimana ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42). Secara khusus ditegaskan bahwa “… penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4: 23). Penyembahan kepada Allah dalam roh dan kebenaran itu bukan sekadar tindakan lahir, melainkan sebuah tindakan batin atau terjadi di dalam batin. Maka, ziarah bukan dimaksudkan untuk mengalami peristiwa sentimentil (mujizat, dll.) tetapi untuk memperoleh pengalaman ontentik bersama dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Ziarah dimaksudkan agar kita mengalami perubahan atau pertobatan. Pengalaman sejati itu mesti mendorong Gereja untuk tertlibat dalam dunia nyata dan untuk bekerja sama dengan orang lain (agama lain, suku lain, dll.). Karena itu, penziaraha kita tidak akan pernah selesai dan inilah karakter eskatologis Gereja.
Berziarah bersama dengan Bunda Maria
Roh Kuduslah yang menggerakan hati kita untuk berziarah. Sebagaimana dahulu Roh Kudus memerlukan Maria untuk melakukan penziarahanNya (Allah Putra menjelma menjadi Manusia), demikianlah pula Dia tetap memerlukan Bunda Maria dalam penziarahan kita kepada Allah. Karena itu, Gereja Kudus dengan tegas menyebut bahwa Bunda Maria sebagai “tanda harapan pasti” (bdk. Lumen Gentium). Penerimaan kita akan Maria adalah akibat iman kita akan Kristus. hal ini dapat dibandingkan dengan peristiwa Golgota ketika Rasul Yohanes menerima Maria, yang dipercayakan Kristus kepadanya (lih. Yoh 19: 26-27, khususnya ay. 27). Bunda Maria tidak pernah meninggalkan kita, melainkan tetap berziarah bersama dengan kita untuk mencapai persatuan dengan Yesus Kristus. Karena itu, kata P. Arnold, tempat-tempat ziarah Bunda Maria tidak pernah sepi kunjungan tetapi selalu dikunjungi oleh para peziarah karena perannya yang efektif.
Berziarah sebagai Montfortan
Pada bagian akhir penuturannya, P. Arnold mengatakan bahwa selama hidupnya, baik sebagai seorang seminaris maupun terutama sebagai seorang imam, St. Montfort begitu kerap melakukan ziarah. Ada beberapa contoh: dia berziarah ke katedral Chartres, Mont Saint Michaell, gua alam Mervent. Semua itu adalah ungkapan lahiriah dari apa yang hidup di dalam batin. Dia berziarah sebagai sebuah ungkapan pertobatan batinya terus-menerus. Dia pun selalu bergerak, berpindah sehingga dengan berani mengatakan bahwa diah “menikahi” Kebijaksanaan. Ketika bertemu dengan sahabat sekolahnya, Blain, yang mencecar dirinya dengan begitu banyak pertanyaan menyangkut gaya hidupnya yang dianggap “aneh”, St. Montfort mengambil Kitab Suci yang selalu dibawa di dalam tasnya dan menyerahkan kepada sahabatnya itu sambil berkata, “Tunjukkan di mana cara hidup saya yang tidak sesuai dengan Kitab Suci?” Dengan berkata demikian, dia menegaskan dirinya sebagai pengikut para Rasul yang terus berziarah.
Sesaat setelah pemaparan materi rekoleksi, Pater Arnold menawarkan beberapa pertanyaan sebagai sarana pendalaman pribadi atas tema yang telah dibahas: Apa intensi saya dalam ziarah ini? Apakah saya perlu membuat kemajuan berarti dalam kehidupan rohani saya? Dan bagaimana peran Bunda Maria kehidupan rohani saya?
Perayaan Ekaristi
Rangkaian rekoleksi dimahkotai dengan perayaan Ekaristi yang langsung dipimpin oleh Pater Arnold. Dalam homilinya, dia menguraikan makna rutinitas, terutama dalam kehidupan doa. Berkenaan dengan salah satu bentuk praktik lahiriah pembaktian diri kepada Kristus melalui tangan Santa Perawan Maria, yaitu doa Rosario, dia menegaskan bahwa “rutinitas adalah rahasia intensifikasi, rahasia pendalaman relasi dengan Bunda Maria.” Dalam tulisannya, Rahasia Maria, St. Montfort mengatakan, dia telah “beribu-ribu kali … menerima Maria!” (bdk. Yoh. 19: 25-27). Semakin kita menerima Bunda Maria, semakin mendalam kita menyerahkan diri kita kepadanya dalam Kristus. Rosario sebagai praktik lahiriah bakti sejati kepada Maria adalah sarana intensifikasi relasi pribadi dengan Bunda Maria. “Lantas, apa makna beribu-ribu kali berdoa rosario bagi kita?” ujar P. Arnold mengakhiri homili singkatnya.
Rekreasi Bersama: Pantai Katebe
Setelah acara rekoleksi, seluruh rombongan bergerak ke arah barat menuju ke pantai pasir panjang Katebe. Menyaksikan keindahan pantai yang landai dengan pasir putih yang bersih dan ombak yang kecil, anggota rombongan sungguh bergembira. Namun, perut yang telah lapar mesti segera diisi. Sebelum berenang dan bermain di laut atau sekadar berlari-lari di pantai, semua menikmati sajian makan siang yang telah disiapkan dari Ruteng.
Tanpa menunggu begitu lama, usai makan, sebagian besar anggota rombongan beramai-ramai berenang. Ada yang berenang dan menyelam. Ada pula yang bermain melempar bola. Singkatnya, semua mengalami sukacita setelah menikmati curahan rohani yang menyegarkan benak dalam rekoleksi dan Ekaristi. Tanpa sadar, sang raja siang pun semakin beringsut ke arah barat sebagai prantada bahwa kami harus mengakhiri acara kami hari itu. Sekitar jam 16.30 Wita, satu per satu kendaraan yang kami tumpangi meninggalkan pantai Katebe yang permai untuk kembali lagi ke Ruteng sambil membawa aneka pengalaman dan inpirasi dalam batin.
Bunda Maria dari Torongbesi, doakanlah kami.
Santo Louis-Marie de Montfort, doakanlah kami.
Beata Marie-Louise dari Yesus, doakanlah kami. (LdN)
Filed under: Novisiat, Postulat, Sharing Pengalaman Ditandai: | Bunda Maria, Gua Maria Torongbesi, Kabar KOMUNITAS, Katolik, Kelurga Besar Montfortan, Makna Ziarah, Santo Montfort, Ziarah