Blog Baru Novisiat Montfortan

Para Pengunjung, para Konfrater, dan para Sahabat di mana saja Anda berada! Kami hendak menyampaikan sebuah kabar gembira bahwa untuk selanjutnya, informasi mengenai NOVISIAT MONTFORTAN dapat dilihat di Blog terbaru kami. Sebagian materi di dalam blog ini telah kami pindahkan ke alamat baru.

Untuk itu, Anda dapat langsung berkunjung ke:


http://www.novisiat-smm.co.cc/

Terima kasih atas perhatian dan dukungan Anda.

Salam persaudaraan,

Admin Blog Novisiat Montfortan

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU!

KAMI, KOMUNITAS NOVISIAT MONTFORTAN RUTENG, MANGGARAI, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR, MENGUCAPKAN
“SELAMAT HARI RAYA NATAL
DAN MENYAMBUT TAHUN BARU”
KEPADA SEGENAP SAUDARA-SAUDARI SEIMAN DI MANA SAJA ANDA BERADA.

SEMOGA DAMAI NATAL TUHAN KITA YESUS KRISTUS MELINGKUPI HATI KITA SEHINGGA KITA DIKUATKAN UNTUK MENGISI TAHUN BARU DENGAN SEMANGAT YANG BARU PULA.

SALAM DAN DOA KAMI.

Hari Ini Blog Dimoderasi!

Setelah sekian lama, hari ini untuk pertama kalinya blog Novisiat diperbaharui dengan penambahan beberapa widget dan fasilitas lainnya. Salah satu di antara sekian banyak penambahan adalah aktifasi pengiriman tulisan melalui e-mail. Semoga melalui sarana ini, semakin banyak konfrater yang terlibat dalam pengembangan blog Novisiat.

Terima kasih dan semoga upaya ini berhasil.

Lectio Divina dengan Surat-surat Santo Paulus

Dalam rangka berefleksi terus-menerus
mengenai misi Serikat Maria Montfortan
dan identitas kita sebagai misionaris

Untuk mempersiakan Kapitel Jenderal yang akan diadakan pada bulan Mei 2011, kami mengundang Anda untuk memulai proses Lectio Divina harian dengan menggunakan surat-surat Santo Paulus – rasul, misionaris, pewarta Injil.

Sebagai bagian kegiatan doa ini, kami mengajak Anda untuk merenungkan pengalaman misioner Santo Montfort di Pontchâteau …
… sebagai contoh evangelisasi yang kreatif
… sebagai contoh berkarya dekat dengan umat
… sebagai contoh dalam melibatkan kerabat awam
… sebagai contoh dalam bekerja sama
… sebagai contoh sikap lepas bebas dan kesiapsediaan untuk berpindah terus (instabiles)

Dengan menggali inspirasi pada Kitab Suci dan teladan Santo Montfort, kita dipanggil untuk merefleksikan pengalaman kita sendiri sebagai misionaris.

Setiap bulan kami akan mengirim sebuah pedoman refleksi yang terdiri dari:

I. Daftar bacaan tulisan Santo Paulus yang diusul untuk satu bulan.
II. Pengantar singkat tentang segi-segi misioner dalam surat St. Paulus tersebut.
III. Refleksi singkat tentang salah satu segi peristiwa Pontchâteau.
IV. Beberapa pertanyaan refleksi yang dapat digunakan dalam doa pribadi dan / atau dalam sharing dengan konfrater SMM.

Kami minta agar setiap konfrater akan mulai acara doa harian ini. Kami ajak mereka yang hidup dalam komunitas atau mereka yang hidup berdekatan dengan konfrater yang lain, agar berkumpul sekali sebulan untuk mensharekan buah-buah doa Lectio Divina ini.

Oktober 2009

Lectio Divina bersama St. Paulus: Surat Pertama kepada Umat di Korintus

Catatan mengenai Lectio Divina

A. Setiap Lectio Divina dimulai dengan doa permohonan agar Roh Kudus membuka hati kita bagi arti kutipan yang dipilih.
B. Kutipan dibaca dengan pelan-pelan … mungkin beberapa kali.
C. Kemudian Sabda direnungkan – ambillah waktu untuk bermeditasi tentang kutipan itu. Mungkin Anda tertarik pada satu ayat atau pada satu gambaran yang memicu Anda masuk dalam suasana doa. Biarlah diri Anda ditarik ke dalam doa kontemplasi atau hanya ke dalam keheningan di hadapan Firman Tuhan.

N.B. Ketiga langkah ini tidak harus diikuti secara kaku dan dalam garis lurus yang selalu bergerak dari A ke B kemudian ke C. Anda dapat bergerak melalui tiga langkah ini dengan cara spiral, dengan membaca ulang kutipan tersebut, bertahan lebih lama pada gambaran atau ayat tertentu, berdoa memohon bimbingan Roh Kudus.

Surat Pertama Rasul Paulus kepada Umat di Korintus

Surat Pertama kepada Umat di Korintus menyapa umat Kristiani tertentu yang dengan bantuan Paulus telah menerima Injil. Sebagai salah seorang pendiri umat ini, Paulus mengajak para anggota umat agar menghayati iman mereka secara lebih mendalam dan lebih matang. Ia menyinggung beberapa persoalan yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan dalam Gereja di Korintus.

1Korintus menyajikan beberapa refleksi tentang bagaimana Paulus memandang dirinya sebagai rasul dan pewarta Injil. Ia berusaha untuk membawa umat kristiani kepada persatuan di dalam konteks sosial yang menekankan pengelompokan dan perbedaan yang ada di antara para anggota yang membentuk kelompok itu dan orang lain yang tidak boleh masuk dan dipinggirkan. Paulus mencoba menginjili berbagai aspek kebudayaan Korintus yang bertentangan dengan iman akan Yesus Kristus dan dengan praktik iman itu dalam hidup sehari-hari.
Montfort di Pontchâteau

Santo Montfort melihat pembangunan Kalvari Pontchâteau sebagai ungkapan iman yang hidup dari masyarakat di daerah itu. Sebagaimana Santo Paulus berharap bisa memperdalam iman umat Kristiani di Korintus, Santo Montfort berharap agar proyek di Pontchâteau akan mengalir dari iman umat di situ, dan akan menarik orang lain ke dalam penghayatan iman yang lebih mawas diri. Pembangunan Kalvari itu menjadi sarana yang kreatif untuk memberi wujud konkrit kepada pewartaan yang disampaikan Montfort. Bukan hanya pembangunan fisik Kalvari, melainkan terutama kegiatan umat yang mengambil bagian dalam pembangunan itu menjadi kesaksian yang hidup tentang iman yang telah mendarahdaging.
Kutipan yang dianjurkan untuk Lectio Divina harian

1 Kor 1: 1-9
1 Kor 1: 10-31
1 Kor 2: 1-16
1 Kor 3: 1-23
1 Kor 4: 1-5
1 Kor 4: 6-21
1 Kor 5: 1-13
1 Kor 6: 1-11
1 Kor 6: 12-20
1 Kor 7: 1-16
1 Kor 7: 17-31
1 Kor 7: 32-40
1 Kor 8: 1-13
1 Kor 9: 1-14
1 Kor 9: 15-18
1 Kor 9: 19-27
1 Kor 10: 1-13
1 Kor 10: 14 – 11,1
1 Kor 11: 2-16
1 Kor 11: 17-34
1 Kor 12: 1-11
1 Kor 12: 12-31
1 Kor 13: 1-13
1 Kor 14: 1-19
1 Kor 14: 20-40
1 Kor 15: 1-11
1 Kor 15: 12-28
1 Kor 15: 29-49
1 Kor 15: 50-58
1 Kor 16: 1-12
1 Kor 16: 13-24

“Perutusan kita dalam Gereja terletak dalam mengungkapkan misteri penyelamatan kepada mereka yang belum mengenalnya; dalam membawa orang yang sudah mendengar Kabar Gembira kepada penemuan kembali dan pendalaman misteri penye¬lamat¬an itu, melalui penyadaran kembali arti janji baptis mereka.
Konstitusi, nr. 9″

Beberapa pertanyaan untuk refleksi

1. Paulus mempertentangkan kebijaksanaan Allah dengan kebijaksanaan manusia (1 Kor 1-2). Bagaimana pengalaman Anda tentang kebijaksanaan Salib dalam hidup Anda sebagai misionaris?

2. Paulus mendesak orang-orang Korintus agar jangan terpecah-pecah dan terbagi dalam kelompok. Bagaimana godaan tersebut dapat mempengaruhi misi kita dalam komunitas / entitas / kongregasi kita?

3. Paulus berbicara tentang peranannya sebagai rasul dalam pasal 9. Sejauh mana caranya ia menggambarkan karya pelayanannya (mis. 1 Kor 9:19-27) juga mencerminkan cara Anda sendiri mendekati keberadaan Anda sebagai misionaris?

4. Paulus menyebut sejumlah karunia di dalam Tubuh Kristus (1 Kor 12). Bagaimana bakat Anda dan bakat konfrater lain dalam komunitas Anda saling melengkapi? Bagaimana bakat-bakat ini saling mengisi dalam misi bersama? Apakah ada halangan dalam membagi-bagi talenta secara lebih lengkap demi karya perutusan?
Bergerak menuju tindakan konkrit

Dengan cara bagaimana doa dan refleksi Anda dapat membawa Anda untuk bertindak secara konkrit – baik secara pribadi maupun sebagai komunitas lokal / dalam kelompok Anda?

Selamat HUT Pater Arnold

Hari ini, Pater Arnold Suhardi SMM, salah seorang anggota dan formator di Komunitas Novisiat Montfortan, Ruteng, merayakan Hari Ulang Tahunnya. Perayaan diungkapkan dalam misa harian seperti biasa. Namun, setelah perayaan Ekaristi, persisnya saat menjelang sarapan, seluruh anggota komunitas Novisiat disalami satu per satu oleh Pater Arnold. Ini sebuah “tradisi” baru yang dibuat. Biasanya anggota komunitaslah yang berdiri mengelilingi “yang berbahagia”.

Terlepas dari itu, kami anggota komunitas Novisiat, baik para postulan dan novis maupun para formator mengucapkan “SELAMAT BERBAHAGIA” kepada Pater Arnold. Semoga kehadiran Pater di komunitas ini memberikan suasana baru dalam proses formasi para formandi. Kami mendukung Pater dengan doa-doa kami. Salam sukses dan juga nanti selamat menikmati perjalanan menuju ke Denpasar untuk menghadiri rapat mengenai formasi dan kemudian dapat melaksanakan rencana promosi ke Seminari Sinar Buana, Weetebula, Sumba Barat.

Salam dan doa kami semua,

rekan formator dan para formandi

Novisiat Montfortan

Publikasi Pertama

Ini adalah hari pertama kami memperkenalkan Komunitas kami, Novisiat Montfortan Indonesia kepada para pembaca. Semoga melalui publikasi ini, semakin banyak orang yang mengenal Komunitas kami.

Salam hormat,
Novisiat Montfortan Indonesia

Makna Ziarah: Bergerak dari Kedangkalan menuju ke Kedalaman

Bertepatan dengan hari Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, 7 Oktober 2009 ini, Komunitas Novisiat Montfortan, Ruteng, bersama dengan para konfrater di Paroki St. Montfort dan para Suster Putri-putri Kebijaksanaan (DW) di Poco mengadakan ziarah bersama ke Gua Maria di Torong Besi, Reo. Kegiatan ziarah bersama ini diisi dengan dua kegiatan, yakni pertama, rekoleksi dan perayaan Ekaristi di Gua Bunda Maria di Torongbesi, dan kedua, rekreasi bersama di pantai Katebe.

Perjalanan menuju ke Torong Besi, Reo, membutuhkan waktu lebih dari 3 jam. Menggunakan sebuah bis kayu (truck beratap) dan sebuah mobil Kijang, rombongan mulai bergerak dari Ruteng pada pukul 07.15. Dalam perjalanan ke sana, rombongan Novisiat Montfortan menjemput para konfrater dan para suster di Poco. Pater Sumadi dan Fr. Obet serta para suster DW bersama dengan dua postulan dan seorang tamu bergabung. Semua peserta ziarah pun dengan riang gembira bergerak menuju ke Torong Besi.

Kendati ada beberap penumpang yang mabuk, perjalanan umumnya ditempuh dengan aman dan lancar hingga akhirnya sekitar jam 10.45 rombongan tiba di kompleks tempat ziarah.

Ziarah: Proses Pertobatan
Setelah beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah dan kepenatan, semua peserta ziarah, yang semuanya dapat disebut sebagai anggota Keluarga Besar Montfortan itu bersama-sama menuju ke gua Bunda Maria. Sambil memandang keindahan hamparan laut lepas, para peserta mendengarkan sebuah input dalam rekoleksi singkat yang disampaikan oleh Pater Arnold Suhardi SMM dengan tema “Makna Ziarah”.

Dalam pemaparannya, Pater Arnold menguraikan lima pokok penting yang berkaitan dengan ziarah. Pada bagian pertama, sebagai “pengantar”, Pater Arnold mengatakan bahwa kita melakukan ziarah berangkat dari kesadaran dan cinta. Dengan berziarah orang mempunyai niat, yang muncul dari halam hati yang penuh cinta dan harapan. Ziarah sebagai tindakan pribadi atau devosi pribadi berbeda dari liturgi. Karena itu, katanya, di dalam liturgi kerap tiada kesadaran atau greget. “Maka, kesempatan ziarah adalah saat yang sangat bermakna,” tegas P. Arnold.

Yesus: Allah yang Berziarah

Lebih lanjut, Pater Arnod menjelaskan bahwa “Bukan kita yang pertama berziarah kepada Allah. Sebaliknya, justru Allah yang pertama-tama berziarah kepada kita. Di dalam Perjanjian Lama kita menemukan Allah yang berziarah, berjalan bersama, seperti pengalaman Abraham, terutama dalam pengalaman Musa yang mengantar umat Israel keluar dari Mesir.” Gambaran yang paling sempuran mengenai Allah yang berziarah adalah Yesus. Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. “Yesus berziarah karena Dia mencintai!” demikian tegas lulusan Teologi Spiritual Gregoriana, Roma, ini.

Jadi, dia menyimpulkan, Yesus mempunyai dua ziarah, yakni pertama, “dalam Tritunggal”: Yesus keluar dari diriNya untuk mencintai Bapa dan Roh Kudus. Kedua, “dalam waktu atau dalam sejarah keselamatan,” yang mempunyai dua makna: Exitus, yang berarti bahwa Dia keluar dari keabadian dan masuk ke dalam waktu untuk menjadi Manusia. Puncak ziarah ini adalah peristiwa Salib. Reditus yang berarti Yesus kembali kepada Bapa setelah peristiwa Salib.

Oleh karena itu, ziarah itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi manusia. Dasarnya adalah bahwa Yesus Kristus sebagai Homo viatus — Manusia yang terus berziarah dalam Roh — menemani manusia. Maka, dalam Roh, manusia terus beziarah di mana dan kapanpun, ujarnya sambil menyitir salah satu tulisan St. Montfort, Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi (CKA) Bab VI, dan salah satu bagian dalam Ratio Formationis Montfortan.

Gereja yang Berziarah

Ketika menjelaskan bagian Gereja sebagai umat Allah yang berziarah, P. Arnold menggarisbawahi bahwa titik awal atau titik berangkat penziarahan Gereja adalah pengalaman Paskah. “Jadi, kita seperti St. Paulus yang ditangkap oleh Kristus,” ujarnya. Di dalam Sakramen Baptis, kita memulai penziarahan kita. Pengalaman perjalanan dari Ruteng menuju ke tempat ziarah, Gua Maria Torongbesi adalah sebuah simbolisme penziarahan batin, pergerakan batin. Kita berziarah, bergerak dari hal dangkal menuju ke tempat yang yang lebih dalam. Ziarah adalah sebuah gerakan menuju pertobatan, sebagaimana ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42). Secara khusus ditegaskan bahwa “… penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4: 23). Penyembahan kepada Allah dalam roh dan kebenaran itu bukan sekadar tindakan lahir, melainkan sebuah tindakan batin atau terjadi di dalam batin. Maka, ziarah bukan dimaksudkan untuk mengalami peristiwa sentimentil (mujizat, dll.) tetapi untuk memperoleh pengalaman ontentik bersama dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Ziarah dimaksudkan agar kita mengalami perubahan atau pertobatan. Pengalaman sejati itu mesti mendorong Gereja untuk tertlibat dalam dunia nyata dan untuk bekerja sama dengan orang lain (agama lain, suku lain, dll.). Karena itu, penziaraha kita tidak akan pernah selesai dan inilah karakter eskatologis Gereja.

Berziarah bersama dengan Bunda Maria

Roh Kuduslah yang menggerakan hati kita untuk berziarah. Sebagaimana dahulu Roh Kudus memerlukan Maria untuk melakukan penziarahanNya (Allah Putra menjelma menjadi Manusia), demikianlah pula Dia tetap memerlukan Bunda Maria dalam penziarahan kita kepada Allah. Karena itu, Gereja Kudus dengan tegas menyebut bahwa Bunda Maria sebagai “tanda harapan pasti” (bdk. Lumen Gentium). Penerimaan kita akan Maria adalah akibat iman kita akan Kristus. hal ini dapat dibandingkan dengan peristiwa Golgota ketika Rasul Yohanes menerima Maria, yang dipercayakan Kristus kepadanya (lih. Yoh 19: 26-27, khususnya ay. 27). Bunda Maria tidak pernah meninggalkan kita, melainkan tetap berziarah bersama dengan kita untuk mencapai persatuan dengan Yesus Kristus. Karena itu, kata P. Arnold, tempat-tempat ziarah Bunda Maria tidak pernah sepi kunjungan tetapi selalu dikunjungi oleh para peziarah karena perannya yang efektif.

Berziarah sebagai Montfortan

Pada bagian akhir penuturannya, P. Arnold mengatakan bahwa selama hidupnya, baik sebagai seorang seminaris maupun terutama sebagai seorang imam, St. Montfort begitu kerap melakukan ziarah. Ada beberapa contoh: dia berziarah ke katedral Chartres, Mont Saint Michaell, gua alam Mervent. Semua itu adalah ungkapan lahiriah dari apa yang hidup di dalam batin. Dia berziarah sebagai sebuah ungkapan pertobatan batinya terus-menerus. Dia pun selalu bergerak, berpindah sehingga dengan berani mengatakan bahwa diah “menikahi” Kebijaksanaan. Ketika bertemu dengan sahabat sekolahnya, Blain, yang mencecar dirinya dengan begitu banyak pertanyaan menyangkut gaya hidupnya yang dianggap “aneh”, St. Montfort mengambil Kitab Suci yang selalu dibawa di dalam tasnya dan menyerahkan kepada sahabatnya itu sambil berkata, “Tunjukkan di mana cara hidup saya yang tidak sesuai dengan Kitab Suci?” Dengan berkata demikian, dia menegaskan dirinya sebagai pengikut para Rasul yang terus berziarah.

Sesaat setelah pemaparan materi rekoleksi, Pater Arnold menawarkan beberapa pertanyaan sebagai sarana pendalaman pribadi atas tema yang telah dibahas: Apa intensi saya dalam ziarah ini? Apakah saya perlu membuat kemajuan berarti dalam kehidupan rohani saya? Dan bagaimana peran Bunda Maria kehidupan rohani saya?

Perayaan Ekaristi

Rangkaian rekoleksi dimahkotai dengan perayaan Ekaristi yang langsung dipimpin oleh Pater Arnold. Dalam homilinya, dia menguraikan makna rutinitas, terutama dalam kehidupan doa. Berkenaan dengan salah satu bentuk praktik lahiriah pembaktian diri kepada Kristus melalui tangan Santa Perawan Maria, yaitu doa Rosario, dia menegaskan bahwa “rutinitas adalah rahasia intensifikasi, rahasia pendalaman relasi dengan Bunda Maria.” Dalam tulisannya, Rahasia Maria, St. Montfort mengatakan, dia telah “beribu-ribu kali … menerima Maria!” (bdk. Yoh. 19: 25-27). Semakin kita menerima Bunda Maria, semakin mendalam kita menyerahkan diri kita kepadanya dalam Kristus. Rosario sebagai praktik lahiriah bakti sejati kepada Maria adalah sarana intensifikasi relasi pribadi dengan Bunda Maria. “Lantas, apa makna beribu-ribu kali berdoa rosario bagi kita?” ujar P. Arnold mengakhiri homili singkatnya.

Rekreasi Bersama: Pantai Katebe

Setelah acara rekoleksi, seluruh rombongan bergerak ke arah barat menuju ke pantai pasir panjang Katebe. Menyaksikan keindahan pantai yang landai dengan pasir putih yang bersih dan ombak yang kecil, anggota rombongan sungguh bergembira. Namun, perut yang telah lapar mesti segera diisi. Sebelum berenang dan bermain di laut atau sekadar berlari-lari di pantai, semua menikmati sajian makan siang yang telah disiapkan dari Ruteng.

Tanpa menunggu begitu lama, usai makan, sebagian besar anggota rombongan beramai-ramai berenang. Ada yang berenang dan menyelam. Ada pula yang bermain melempar bola. Singkatnya, semua mengalami sukacita setelah menikmati curahan rohani yang menyegarkan benak dalam rekoleksi dan Ekaristi. Tanpa sadar, sang raja siang pun semakin beringsut ke arah barat sebagai prantada bahwa kami harus mengakhiri acara kami hari itu. Sekitar jam 16.30 Wita, satu per satu kendaraan yang kami tumpangi meninggalkan pantai Katebe yang permai untuk kembali lagi ke Ruteng sambil membawa aneka pengalaman dan inpirasi dalam batin.

Bunda Maria dari Torongbesi, doakanlah kami.

Santo Louis-Marie de Montfort, doakanlah kami.

Beata Marie-Louise dari Yesus, doakanlah kami. (LdN)

Mahmoud Ahmadinejad Keturunan Yahudi (By Ita Lismawati F. Malau, Harriska Farida Adiati – Minggu, 4 Oktober)

Sumber: www.vivanews.com

VIVanews – Foto Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad saat sedang menunjukkan kartu identitas dalam pemilihan umum Maret 2008 memperlihatkan bahwa keluarganya memiliki keturunan Yahudi. Dalam dokumen yang diperbesar bisa terbaca bahwa Ahmadinejad pernah dipanggil “Sabourjian”, nama Yahudi yang berarti penenun pakaian. Bukt-bukti ini pertama kali diungkap oleh harian The Daily Telegraph.

Seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, Minggu 4 Oktober 2009, catatan pendek di dalam kartu identitas itu menjelaskan kalau keluarga presiden yang kerap mengecam Israel ini mengganti nama keluarga menjadi Ahmadinejad saat mereka memeluk Islam pasca kelahiran Ahmadinejad.

Keluarga Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad. Nama Sabourjian diperoleh dari “tukang tenun Sabour,” nama selendang Yahudi Tallit di Persia. Nama tersebut juga masuk dalam daftar nama orang-orang Yahudi Iran yang dikumpulkan oleh Departemen Dalam Negeri Iran.

Para ahli tadi malam menyebutkan bahwa track record Ahmadinejad yang kerap mengeluarkan kritik pedas terhadap kaum Yahudi bisa jadi dilakukan untuk menutupi masa lalunya. “Setiap keluarga yang pindah agama membuat identitas baru dengan mengecam kepercayaan mereka sebelumnya,” kata Ali Nourizadeh dari Pusat Studi Arab dan Iran. “Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak hal tentang dia.

Dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan anti-Israel, dia mencoba menghilangkan kecurigaan tentang keterkaitan dirinya dengan Yahudi. Dia merasa tak berdaya di tengah masyarakat radikal Syiah,” terang Nourizadeh.

Juru bicara kedutaan Israel di London, Ron Gidor, mengatakan tidak akan terpengaruh dengan masa lalu Ahmadinejad. “Itu bukan sesuatu yang perlu kami bahas,” kata Gidor.

Ahmadinejad memang tidak pernah menyangkal bahwa namanya diganti saat keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Namun dia tidak pernah mengungkapkan nama sebelumnya dan tidak menjelaskan alasan penggantian nama tersebut.

Ahmadinejad adalah insinyur berkualitas dengan gelar doktor dalam bidang traffic management. Dia menjadi milisi Garda Revolusioner sebelum namanya dikenal sebagai politisi garis keras di Teheran.

Berjemur di Matahari

Sepanjang sepekan, persisnya mulai Senin (28/9) hingga hari ini, Sabtu (3/10), para postulan Montfortan menjalankan program “Berjemur di Matahari”. Sesuai dengan namanya, para postulan rela untuk bermandi keringat bukan untuk sekadar mencari kehangatan bagi tubuh mereka, melainkan untuk bekerja. Diawali dengan kegiatan membabat/menebas sensus yang telah lama “mengisi” kebun Novisiat, kemudian membakarnya setelah dibiarkan kering selama dua-tiga hari, dan akhirnya mencangkul lahan yang telah dibersihkan.

Selama masa retret “Berjemur dalam Cinta”, mereka telah merenungkan banyak tema mengenai cinta yang telah mereka terima. Salah satu “penyumbang cinta” kepada mereka — dan tentu saja kepada setiap manusia dan makhluk di bumi ini — adalah alam ciptaan Tuhan. Alam ciptaan telah menyalurkan cinta Tuhan kepada manusia dalam pelbagai manifestasinya.

Karena itu, sebagai salah satu wujud tanggapan cinta Tuhan melalui alam semesta, para postulan mencurahkan perhatian dan tenaga mereka untuk mengolah lahan Novisiat yang cukup luas untuk kemudian dapat ditanami tanaman yang berguna. Cengkeh adalah salah satu tanaman yang bakal ditanam di lahan yang telah disediakan.

Pekerjaan membersihkan lahan, menggali lobang, mengisi pupuk kandang dijalankan oleh para postulan dengan penuh semangat. Mereka sungguh mengungkapkan semangat dan kecintaan mereka kepada alam dan tentu juga secara khusus kepada tarekat yang telah mereka pilih.

Hari ini, rangkaian kegiatan “Berjemur di Matahari” telah usai. Namun, diharapkan agar kegiatan ini tidak cuma sepenggal pengalaman di antara sekian banyak kegiatan, melainkan mesti menjadi sebuah peristiwa yang berkaitan dengan seluruh proses pembinaan di rumah Novisiat Montfortan ini.

Selamat kepada para postulan yang telah menununjuk semangat sebagai pribadi-pribadi yang layak diandalkan dalam perjalanan SMM di masa yang akan datang!

Padang Porak Poranda 75 Orang Lebih Tewas, Ratusan Bangunan Runtuh

KOMPAS cetak, Kamis, 1 Oktober 2009 | 03:11 WIB

Padang, Kompas – Gempa bumi berskala 7,6 skala Richter yang mengguncang beberapa wilayah Sumatera Barat, Rabu (30/9) pukul 17.16, mengakibatkan Kota Padang porak poranda, diikuti sejumlah kebakaran. Rabu malam, hujan lebat mengguyur Kota Padang yang berada dalam kondisi gelap gulita tanpa aliran listrik.

Ratusan bangunan runtuh, belasan gedung bertingkat hancur, dan sebagian rumah yang runtuh diikuti kebakaran akibat guncangan gempa. Hingga pukul 00.00 tercatat sedikitnya 75 orang tewas dan puluhan orang luka berat. Kepanikan terjadi di mana-mana.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi berpusat di 0,84 Lintang Selatan, 99,65 Bujur Timur, dan berada di kedalaman 71 kilometer dari permukaan laut. Pusat gempa berada lebih kurang 57 kilometer barat daya Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Semalam, situasi sebagian besar Kota Padang dalam keadaan gelap gulita karena empat gardu induk padam. Petugas tampak melakukan proses pemulihan dengan memanfaatkan gardu induk yang tidak padam.

Direktur Operasi PT PLN (Persero) Murtaqi Syamsuddin di Jakarta menginformasikan, PLTU Ombilin beroperasi normal. Sementara PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak lepas dari sistem sehingga tidak mampu menyalurkan daya listrik ke pelanggan.

”Gedung pembangkit dari PLTA Maninjau dan Singkarak kondisinya aman. Kami melakukan pemeriksaan generator terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam sistem,” ujar Murtaqi. Jaringan distribusi tegangan 20 kilovolt (kV) juga banyak yang roboh.

Menurut pemantauan wartawan Tribun Pekanbaru, situasi Kota Padang sangat mencekam sesaat setelah gempa. Ratusan rumah dan bangunan bertingkat di Kota Padang runtuh. Listrik yang padam justru digantikan nyala api kebakaran rumah dan bangunan di mana-mana. Jaringan internet ngadat dan jalur komunikasi via seluler sebagian tak bisa digunakan.

Beberapa gedung yang runtuh adalah Gedung BII di Jalan Sudirman, Suzuki Ujung Jalan Ujung Gurun, Capella, Sentral Pasaraya Padang, Ramayana di Jalan Pemuda, Anugerah Furniture, serta bangunan Fakultas Teknik Unand di Limau Manis. Gedung Rektorat IAIN Imam Bonjol, Padang, yang terletak di Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, runtuh dan bangunan masjid yang ada di sana sebagian dindingnya runtuh.

Wartawan Kompas, Arbain Rambey, mengaku sulit menembus Kota Padang. ”Di mana-mana jalan terputus,” kata Arbain yang pada Rabu pagi bertugas memotret karapan sapi di Batusangkar.

Sepanjang perjalanan, beberapa tebing longsor. Arbain masuk Padang melalui Solok setelah jalur Cilayang, Padang Panjang, terputus. Sebuah masjid besar di Kota Padang roboh.

”Saya belum ketemu anak saya, Aditya. Ia mengikuti kursus di Sony Sugema ketika gempa terjadi. Gedung itu runtuh. Kami tidak tahu nasib Aditya,” kata Bambang, dosen Universitas Negeri Padang (UNP).

Elda Gusneri, mahasiswa Kimia UNP, mengatakan, banyak rumah di sekitar perumahannya terbakar di kawasan Jati, Padang. ”Setelah gempa, air tiba-tiba keluar di halaman rumah kami. Saya takut sekali. Apalagi rumah kami hanya satu 1 kilometer dari pantai. Saya sekeluarga mengungsi ke rumah sakit,” kata Linda, warga Padang.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi yang tengah berada di Jakarta, Rabu petang, menambahkan, hingga semalam akses komunikasi dari dan menuju Sumbar masih sulit dilakukan dan sejumlah penerbangan langsung menuju Bandara Minangkabau, Kota Padang, ditutup karena kerusakan sistem komunikasi tersebut.

Penjelasan BMKG

Kepala Subbidang Peringatan Dini BMKG Rahmat Triyono mengatakan, intensitas gempa di Kota Padang mencapai VI-VII modified mercalli intensity (MMI). Sedangkan intensitas III–IV MMI terasakan di Bukit Tinggi, Bengkulu, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Gunung Sitoli. Di Jakarta dan Pekan Baru, rambatan gempa yang terasakan intensitasnya II MMI.

Intensitas VI-VII MMI artinya berdampak tembok roboh, struktur bangunan yang biasa saja bisa rusak, dirasakan oleh semua orang, mebel-mebel bergerak, dan bangunan dengan struktur buruk akan roboh.

Sedangkan intensitas III–IV MMI dirasakan oleh orang yang ada di lantai atas, tetapi tidak langsung dipahami sebagai gempa. Intensitas II MMI berarti terasa oleh sedikit orang, terutama yang berada di lantai atas.

”Tidak ada hubungan antara gempa di Padang dan di Samoa. Gempa di Padang itu akibat tumbukan antara lempeng Eurasia dan Indoaustralia, sedangkan di Samoa berada di tengah lempeng Pasifik,” kata Rahmat.

Kepala Bidang Gaya Berat dan Pasang Surut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Parluhutan Manurung menambahkan, stasiun pemantau pasang surut di pesisir Kota Padang merekam ketinggian gelombang tsunami sekitar 20 cm. Sedangkan stasiun pasut di Telo Nias Selatan dan Tua Pejat di Mentawai masing-masing mencatat ketinggian 10 cm.

75 orang tewas

Di Jakarta, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla saat memimpin rapat kabinet terbatas penanganan bencana di kediamannya memutuskan upaya tanggap darurat selama dua bulan mulai hari Kamis ini.

”Kepala Penanggulangan Bencana akan memimpin bersama dengan Menko Perekonomian beserta lima menteri lainnya akan meninjau lokasi bencana,” kata Wapres. Lima menteri itu adalah Menhub Jusman Safeii Djamal, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Mensos Bachtiar Chamsyah.

Wali Kota Padang Fauzi Bahar melalui telepon melaporkan kepada Wapres kondisi kerusakan sementara Kota Padang. Sedangkan Bupati Pariaman Muslim Kasim melaporkan sedikitnya 75 orang tewas dan telah dibawa ke rumah sakit.

Tentang kerusakan bandara, Jusuf Kalla mengatakan tidak ada landasan yang rusak. ”Kecuali menara kontrol yang kosong karena petugasnya meninggalkan tempat tugasnya untuk mengecek keluarganya. Jadi, ini seperti kejadian di Aceh lalu,” ujarnya.

Saat kejadian, Bupati Pariaman Muslim Kasim dan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi sedang berada di Jakarta.

Hujan lebat dan situasi Kota Padang yang gelap gulita menyulitkan upaya pertolongan dan upaya untuk menghitung jumlah korban.

Wapres mengatakan, pemerintah akan mengirim dua pesawat Hercules, kapal laut pengangkut 100 dokter, paramedis dan alat-alat berat, serta obat dan makanan.

Menko Kesra Aburizal Bakrie menambahkan, tahap pertama akan dikucurkan dana Rp 100 miliar ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan Rp 5 miliar untuk pembelian kain sarung dan lainnya.

Pemprov Sumbar, menurut Gamawan, masih belum bisa memastikan berapa banyak korban jiwa yang terjadi akibat gempa. Ia mengatakan, besarnya gempa membuat warga sangat panik akan terjadinya gelombang tsunami. ”Karena takut tsunami, banyak warga yang mencoba menyelamatkan diri dengan pergi ke tempat lebih tinggi, meninggalkan rumahnya. Kami masih belum mendapat laporan berapa banyak korban yang meninggal,” kata Gamawan.

(Tim Kompas/Persda Network)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.